HIKMAH, GAGASAN CINTA DAN ANEKDOT DALAM SASTRA SUFI

Dalam sejarah tradisi intelektual Islam tak sedikit para Sufi menempati kedudukan istimewa.
Selain dikenal masyarakatnya sebagai guru makrifat, tidak sedikit di antara mereka merupakan
sastrawan terkemuka dan seniman ulung pada zamannya. Contoh yang masyhur ialah
Fariduddin al-‘Attar, Jalaluddin Rumi, Ibn `Arabi, Ruzbihan al-Baqli, Fakhrudin `Iraqi, Hafiz dan
Jami dalam sastra Persia. Di Nusantara ahli tasawuf yang juga dikenal sebagai sastrawan
ulung ialah Sunan Bonang, Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, Nuruddin al-Raniri, Bukhari
al-Jauhari, Raja Ali Haji, Ronggowarsito dan K. H. Hasan Mustafa. Fariduddin al-`Attar
misalnya, bahkan lebih dikenal sebagai penulis alegori-alegori sufistik yang tak tertandingi
dalam bahasa Persia.

Sejak muda Sufi dari Nisyapur abad ke-12 ini memang dikenal sebagai tukang cerita yang
piawai. di samping ahli farmasi dan minyak wangi. Toko obat dan minyak wanginya yang besar
di Nisyapur senantiasa ramai dikunjungi orang. `Attar sering melayani pasien-pasiennya seraya menyampaikan kisah-kisah yang menarik. Di antara kisah-kisah yang dituturkan itu kemudian
ada yang digubah menjadi alegori sufi. Misalnya yang masyhur ialah Mantiq al-Tayr (Musyawar
ah Burung) dan
Asrar-namah
(Kitab Rahasia-rahasia).

Sebagaimana karya sastrawan Sufi pada umumnya, tema pokok karya `Attar adalah cinta ilahi (
`isyq
), sebuah gagasan tentang jalan dan metode kerohanian mencapai kebenaran. Dalam
Mantiq al-Tayr
misalnya, Cinta ditempatkan dalam lembah (
maqam
) kedua dalam perjalanan burung-burung (lambang roh manusia yang merindukan asal-usul
kerohanian dan ketuhanannya) dari tujuh lembah yang harus dilalui untuk menemui raja diraja
mereka Simurgh, lambang hakekat ketuhanan dan hakekat diri manusia. Lembah pertama ialah
talab
(pencarian), sedang lembah ketiga ialah makrifat, selanjutnya lembah ketenangan kalbu,
ketakjuban, fana dan baqa. Dalam lembah pertama dan kedua itu banyak godaan, kesukaran
dan kebingungan yang dihadapi seorang pencari kebenaran. Seseorang sering menyangka
cinta pada dunia, cinta pada lain jenis disebabkan hawa nafsu dan amal perbuatan lain yang
didasarkan atas kepentingan diri sebagai cinta sejati.
Meskipun gagasan cinta Sufi itu didasarkan pada metafisika keagamaan dan bersifat
transendental, serta dalam mencernanya diperlukan pengetahuan dan pengalaman luas,
namun tidak jarang gagasan tersebut disampaikan secara sederhana melalui kisah
perumpamaan, anekdot dan puisi yang menarik. Karya mereka sangat melimpah, memenuhi
sebagian besar khazanah sastra Islam abad ke-11 – 19 M, mencakup sastra Islam Arab,
Persia, Urdu, Turki Usmani, Asia Tengah, Hindi, Sindhi, Bengali, Pasthun, Uyghur, Swahili,
Melayu, Jawa dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: