Kisah di dalam Kitab Hadiqatul Adzhan

Imam Jamaluddin Muhammad bin Musa bin Muhammad al-Yamani di dalam kitabnya, Hadiqatul Adzhan fi Ahaditsil Akhlaqil Hisani, mengisahkan dari Ayahnya, bahwa ketika Luqman dimerdekakan, tuannya memberi harta kepadanya, lalu Allah Swt. melimpahkan berkah pada hartanya hingga menjadi semakin banyak dan berkembang. Tidak ada seorang pun yang datang kepadanya untuk berhutang, melainkan ia pasti menghutangkan harta kepadanya tanpa tanggungan juga tanpa jaminan. Setiap kali ia hendak menyerahkan hartanya kepada orang yang berhutang, ia selalu berkata, “Ambillah harta ini dengan jaminan Allah Swt. dengan harapan semoga engkau sanggup mengembalikannya kepadaku tahun depan.” Jika orang itu menjawab, “Ya,” maka Luqman langsung menyerahkan harta itu kepadanya. Orang-orang berhutang harta kepada Luqman dengan senantiasa mengambil dan mengembalikannya tepat pada waktunya.

Lambat laun, terdengarlah kabar itu oleh seseorang yang tinggal di tepi laut bersama dengan barang dagangannya. Ia adalah seorang pencuri yang jahat, ia berujar, “Sumpah, aku tidak pernah melihat harta yang lebih sia-sia daripada harta Luqman. Ia pasti tidak akan meminta jaminan kepadaku. Demi Allah, aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan berhutang harta yang banyak darinya.”

Kemudian ia pun segera mendatangi Luqman, ia berkata, “Wahai Luqman, kebaikanmu telah terdengar olehku, sementara aku adalah orang yang tinggal di tempat ini dan itu di tepi laut, dan barang daganganku juga di tepi laut itu. Apabila engkau mau meminjamkan harta kepadaku, pastilah aku memanfaatkannya, dan aku akan mengembalikannya kepadamu.”
Luqman menjawab, “Ya, berapa yang kamu inginkan?” Orang itu pun menyebutkan jumlah yang sangat banyak.
Luqman berkata, “Ya, aku tidak akan meminta tanggungan darimu dan aku juga tidak menuntut jaminan. Engkau mengambilnya dengan amanah Allah, dengan harapan akan engkau kembalikan tahun depan sebagaimana kondisi hari ini.”
Orang itu menjawab, “Iya.”

Kemudian Luqman menyerahkan hartanya kepadanya, menulis nama peminjam itu, nama ayahnya, dan juga alamat tempat tinggalnya. Orang itu pun pergi dengan membawa harta panjamannya yang kemudian ia campurkan dengan uangnya sendiri, dan ia bertekad untuk tidak mengembalikannya kepada Luqman.
Suatu hari, putra Luqman hendak bepergian jauh, ia pamit kepada ayahnya sembari berkata, “Wahai ayahku, saya hendak pergi ke daerah ini dan itu. Jika ayah mengizinkan, maka saya akan berangkat.”

Luqman berkata, “Baiklah wahai anakku, aku izinkan engkau pergi, berangkatlah, bawalah kendaraanmu dan kemasi pakaianmu, lalu temui aku lagi sebelum engkau berangkat, aku akan memberi pesan kepadamu.”
Putranya bergegas mentaati anjuran Luqman, ayahnya. Sebelum pergi, ia menghadap Luqman seraya berkata, “Semuanya sudah saya laksanakan, wahai ayahku. Kendaraan saya telah siap untuk dibawa, dan pakaian saya pun telah saya persiapkan, maka berilah saya nasehat, wahai ayahku.”
Luqman berkata, “Baiklah wahai anakku, engkau akan menempuh perjalanan panjang, melewati padang luas.

Masukilah padang luas itu di waktu terang, maka engkau akan melihat ada sebuah pohon yang rindang, di bawahnya ada sumber mata air yang jaraknya dekat dengannya. Jangan sampai engkau singgah di bawah pohon tersebut, dan aku berharap, semoga Allah Swt. mengeluarkanmu dari pohon itu dengan selamat. Setelah itu, engkau akan sampai di sebuah perkampungan, ada seorang saudara kita di situ.

Aku yakin, para penduduk kampung itu akan memuliakanmu. Wahai anakku, sesungguhnya di sana ada seorang wanita yang bernasab mulia dan kaya raya. Aku yakin, mereka akan menawarkan wanita itu kepadamu. Wahai anakku, aku berharap kepada Allah agar engkau diselamatkan-Nya dari wanita itu,” Luqman lalu melanjutkan, “Dan sesungguhnya ada seorang laki-laki yang tinggal di tepi laut anu telah datang kepadaku, ia meminjam hartaku sebanyak sekian.  Ia juga telah menyebutkan namanya dan nama ayahnya. Datangilah ia, kemudian tagihlah hutangnya dan jangan sampai engkau bermalam di rumahnya. Wahai anakku, renungkanlah pesanku kepadamu ini, lalu lakukanlah!”

Putra Luqman menjawab, “Saya akan melaksanakannya, wahai ayah.”
Luqman berpesan lagi, “Wahai anakku, pesanku yang paling utama kepadamu ialah, apabila di dalam perjalananmu ini ada seorang yang lebih tua darimu menemanimu, maka janganlah engkau mendurhakainya sampai engkau kembali kepadaku!”
Putranya menjawab, “Saya akan mematuhinyanya, wahai ayahku.”

Berangkatlah putra Luqman hingga sampai pada sebuah padang yang pernah dikatakan oleh ayahnya. Ia memasuki padang tersebut di waktu hari terang, tetapi tiba-tiba panas terik matahari terasa sangat menyengat di siang itu, sedangkan ia masih berada di tengah-tengah padang. Di saat ia meneruskan perjalanannya, tampaklah sebuah pohon. Ia mencoba mengamatinya, dan ternyata pohon itu sama dengan ciri-ciri yang telah dikatakan oleh ayahnya.
Ia mendapati seorang laki-laki tua yang tengah duduk di bawahnya, lalu ia berpaling dari pohon itu, tapi orang tua tadi lantas memanggilnya sembari berkata, “Matahari waktu dzuhur terasa lurus di atas kepala, siang ini sangat panas, maka berhentilah dan bernaunglah di bawah pohon ini, turunlah dari kendaraanmu, lalu minumlah air. Apabila udara telah terasa sejuk, maka berangkatlah!”
Pemuda itu bergumam di dalam benaknya, “Ini adalah pohon yang aku dilarang oleh ayah untuk berhenti di bawahnya, maka aku tidak mau memenuhi panggilan orang tua itu.”

Orang tua itu kemudian berkata, “Aku bersumpah kepadamu, turunlah!” Akhirnya, pemuda itu memenuhi panggilan orang tua itu, sebab ia teringat pesan ayahnya, “Apabila engkau ditemani seorang yang lebih tua darimu, maka janganlah engkau mendurhakainya!”
Ia pun turun dan mengikat kendaraannya, lalu bernaung, makan, minum, dan merebahkan badannya. Orang tua tadi melarangnya untuk tidur, namun pemuda itu sudah terlanjur tidur. Tiba-tiba ada seekor ular jatuh dari atas pohon tersebut. Orang tua itu melihatnya, maka segera ia melemparkan ular itu dan membunuhnya. Kepalanya dipotong, dan dagingnya dilenyapkan.

Ketika hari mulai gelap, putra Luqman bangun dari tidurnya tanpa mengeluh sedikitpun tentang dirinya, lalu ia segera berangkat sembari membawa kendaraannya.
Orang tua itu berkata, “Hendak ke mana engkau ini?”
Pemuda itu menjawab, “Hendak pergi ke daerah ini dan itu.”
“Saya juga hendak pergi ke sana, maukah engkau aku temani?” orang tua itu menawarkan diri.
“Engkau adalah sebaik-baik teman,” jawab si pemuda.

Sesampainya mereka di kampung yang telah disampaikan Luqman, maka penduduk kampung itu berkata, “Ini adalah putra Luqman.” Kemudian mereka memintanya untuk bersinggah, dan mereka juga memuliakannya. Saat mereka sedang bersantap makan dan minum, tiba-tiba seorang di antara mereka berkata kepada putra Luqman, “Wahai putra Luqman, apakah engkau suka memiliki perempuan muda, mulia keturunannya, dan kaya raya, untuk engkau nikahi?”
Putra Luqman berkata di dalam hatinya, “Ini adalah perempuan seperti yang telah ayah sebutkan ciri-cirinya, oleh karena itu, aku tidak akan menikahinya.
Si orang tua bertanya kepadanya, “Apa sebenarnya yang ditawarkan kepadamu?”
Putra Luqman menjawab, “Saya ditawari seorang wanita muda, cantik, dan banyak hartanya.”
“Seorang wanita muda, cantik, dan berharta, tidak ada yang ketinggalan sedikitpun. Ia harus engkau nikahi, wahai anakku!” ujar orang tua itu.
“Saya tidak akan menikahinya, wahai paman. Saya akan segera melanjutkan perjalanan,” jawab putra Luqman.
Orang tua itu menyeru, “Aku bersumpah kepadamu, laksanakanlah pernikahan ini!”
Putra Luqman kemudian mau menikahi perempuan itu. Ia teringat saat dirinya diselamatkan di bawah pohon dan juga kata-kata ayahnya, “Jika ada seorang yang lebih tua darimu menemanimu, maka janganlah engkau mendurhakainya!”
Tak berselang lama, upacara penikahan mereka segera dilaksanakan. Ketika si perempuan telah menjadi istri putra Luqman, tiba-tiba datang sahabat ayahnya, ia berkata, “Seburuk-buruk perbuatanmu adalah menikahi perempuan ini.

Sesungguhnya ia telah menikah dengan sembilan laki-laki, dan tak seorang pun dari mereka yang bangun esok harinya, kecuali mati di atas tempat tidurnya. Adapun engkau adalah yang kesepuluh.”
Setelah mendengar kata-kata dari sahabat ayahnya itu, putra Luqman menjadi sangat susah dan sedih. Orang tua, teman perjalanannya itu datang menghampirinya seraya bertanya, “Wahai pemuda, apa yang membuatmu sedih?”
Putra Luqman menjawab, “Aku sedih, sebab perempuan yang engkau perintahkan aku untuk menikahinya telah menikah dengan sembilan orang, sebelum denganku. Tidak ada satupun di antara mereka yang keesokan harinya selamat, melainkan mati di atas ranjang, sementara aku takut mati.”
Orang tua itu lalu memberinya peringatan, “Tunggulah perintah yang akan aku  berikan kepadamu, kemudian laksanakanlah! Apabila perempuan itu masuk ke kamarmu, maka jangan engkau mendekatinya hingga engkau mendatangiku.”

Tidak lama setelah itu, para penduduk kampung berbondong-bondong membawa perempuan itu masuk ke kamar suaminya. Sudah menjadi kebiasaan mereka, bila memasukkan perempuan itu ke kamar suaminya, maka mereka mengelilingi rumah yang didiami suami istri tersebut. Sekiranya suaminya menjerit, berarti alamat kematiannya. Kemudian mereka membawa perempuan itu bersama harta kekayaannya, sementara sang suami yang mati mereka tinggalkan.
Mereka pun berkeliling di sekitar rumah itu seperti biasanya. Ketika mereka telah memasukkan si perempuan ke kamar putra Luqman, lantas putra Luqman berkata kepada istrinya itu, “Aku masih mempunyai suatu keperluan.”
Ia segera keluar dan menemui orang tua tadi. “Sekarang, aku berada di sisimu,” sahut istrinya. Namun, putra Luqman tetap pergi begitu saja.
Setelah bertemu dengan orang tua itu, putra Luqman diperintahkan olehnya sembari berkata, “Bawalah anglo (tempat bara api) yang sudah menyala dengan bara apinya!”

Putra Luqman lalu membawa anglo tersebut ke hadapannya. Orang tua itu kemudian mengambil kepala ular yang dibunuhnya dibawah pohon, kemudian meletakkannya di atas bara api tersebut, ia berkata, “Bawalah ini, dan letakkan di bawah istrimu. Bila sudah dingin, bawalah kembali kepadaku!”
Putra Luqman melaksanakan perintah orang tua itu, ia berkata kepada istrinya, “Letakkan ini di bawahmu!”
Istrinya segera melaksanakan perintahnya.

Ketika bara api itu padam, putra Luqman langsung membawanya kepada orang tua tadi. Tiba-tiba, ada binatang yang mirip ulat terbakar dalam tempat bara api itu.
Orang tua itu berkata kepada putra Luqman, “Pergilah kamu untuk menggauli istrimu, sebab sekarang sudah aman. Sesungguhnya ulat yang telah mati inilah yang telah membunuh para suaminya yang terdahulu.”
Putra Luqman pun bergegas mendatangi dan menggauli istrinya. Keesokan harinya, ia terlihat sangat bahagia, dan begitu pula istrinya. Para penduduk yang mengelilingi rumah mereka pun bubar.

Ketika putra Luqman hendak meneruskan perjalanannya, orang tua itu bertanya kepadanya, “Hendak ke mana engkau ini?”
Ia menjawab, “Seseorang telah berhutang kepada kami. Ia tinggal di pinggir laut di daerah anu, dan saya akan menemuinya untuk menagih hutangnya.”
Orang tua tersebut menawarkan diri, “Maukah, aku temani?”
“Baiklah, engkau adalah sebaik-baik teman,” jawab putra Luqman.

Mereka berdua berangkat bersama hingga sampailah mereka di daerah tujuan. Mereka bertanya kepada penduduk setempat perihal orang yang telah berhutang itu. Para penduduk itu menjawab, “Dia adalah seorang pencuri yang jahat, dan dia telah pergi ke rumah yang berada di pinggir laut. Ketika laut pasang, air laut yang biasanya tidak membiarkan apapun di sekitarnya kecuali membawanya ke tengah, tidak bisa mengenai rumahnya seisinya.”
Putra Luqman lantas mendatangi orang itu, ia berkata, “Aku adalah putra Luqman, aku datang hendak menagih hutang padamu.”
Orang yang berhutang itu mengatakan, “Menginaplah barang semalam di sini, dan pulanglah besok dengan membawa harta.”
“Aku dilarang ayah untuk menginap di sini, maka aku tidak akan bermalam di sini,” jawab putra Luqman.
Orang tua yang menemani putra Luqman berkata kepada orang yang berhutang, “Apa yang engkau tawarkan kepada putra Luqman?”
“Aku menawarkan agar kalian berdua bersedia menginap dan bermalam di sini. Besok, kalian bisa pulang dengan membawa harta,” kata orang yang berhutang.
Orang tua itu lantas berkata kepada putra Luqman, “Terimalah tawaran ini, wahai anakku!”
“Aku tidak mau melakukannya,” jawab putra Luqman.
“Aku bersumpah kepadamu, lakukanlah! Engkau menundanya hanya semalam saja, tidak lebih,”

Untuk ketiga kalinya, putra Luqman menyetujui saran orang tua itu, sebab ia teringat, bahwa orang tua itu telah menyelamatkannya saat kejadian di bawah pohon dan juga yang berkenaan dengan istrinya. Akhirnya, mereka berdua menginap di rumah orang yang berhutang itu.
Seusai mereka berdua makan malam, si tuan rumah menyiapkan dua tempat tidur untuk mereka berdua di bawah rumah. Padahal ia tahu, sekiranya air laut pasang, pastilah mereka berdua terbawa air. Sementara anaknya sendiri ditidurkan di atas ranjang kedua tamunya itu. Ia tahu bahwa air tidak akan sampai mengenai tempat tidur anaknya sendiri.

Putra Luqman segera tidur, namun orang tua itu enggan untuk tidur. Ketika tengah malam, tiba-tiba air laut pasang. Orang tua itu mengetahuinya, maka kemudian ia membangunkan putra Luqman, dan mereka memindah ranjang mereka ke ranjang anak tuan rumah itu. Ranjang anak tuan rumah yang ketika itu sedang tidur, diletakkan di tempat ranjang mereka sebelumnya, di bawah. Anak tuan rumah itu pun terbawa air laut yang sedang pasang, sementara mereka berdua sama sekali tidak tersentuh air laut itu.
Paginya, tuan rumah itu mengetahui apa yang telah dilakukan oleh kedua tamunya, keduanya sedang tidur, dan anaknya sendiri lenyap bersama ranjangnya terbawa air laut. Ia memanggil kedua tamunya, seraya berkata, “Aku telah menipu kalian berdua, tetapi tipudayaku mengenai diriku sendiri. Sekarang, pulanglah dengan hartamu ini!”

Mereka pergi dengan membawa uang itu, lantas menemui si perempuan, istri putra Luqman. Putra Luqman memerintahkan kepada istrinya untuk segera berangkat. Mereka pulang dengan membawa harta yang berlimpah, sementara orang tua itu masih menemani mereka sampai di dekat rumah Luqman, ia lalu berkata kepada putra Luqman, “Bagaimana pendapatmu tentang aku yang menemanimu dalam perjalananmu?”
Putra Luqman menjawab, “Engkau adalah sebaik-baik teman, dan semoga Allah Swt. mencukupimu dan melimpahkan rezeki kepadamu.”
“Lalu apa bagian untukku dari apa-apa yang telah engkau dapatkan?” kata orang tua itu.
“Baiklah, separuh bagian untukmu, sebab aku benar-benar telah berhutang budi kepadamu,” kata putra Luqman.
Orang tua itu berkata, “Adakalanya engkau yang membagi dan memilihkan bagianku atau aku yang membagi dan memilihkan bagian untukmu.” Ia mengetahui, bahwa putra Luqman sangat mencintai perempuan yang telah menjadi istrinya berserta hartanya, sehingga ia membiarkan bagian itu untuknya dan ia lebih memilih kepada hartanya yang melimpah, lalu ia berkata kepada putra Luqman, “Coba, tentukan pilihan!”
Putra Luqman kemudian berkata, “Adapun sesungguhnya engkau pasti adil dalam memilih bagian untuk saya, tetapi jika saya yang menentukan pilihan, maka saya lebih memilih istri saya dan harta yang bersamanya.”

Ia lalu pergi ke rumahnya dengan membawa istri dan kekayaan istrinya itu, sedangkan orang tua itu membawa harta yang melimpah. Ketika putra Luqman tengah berjalan dan hampir tidak terlihat lagi, orang tua itu tiba-tiba menyusulnya dan berkata, “Engkau telah memberikan hartamu kepadaku, apa sebabnya? Apa mungkin engkau takut kepadaku?”
Putra Luqman menjawab, “Saya sama sekali tidak takut kepadamu, dan sesungguhnya tidak pernah ada teman dalam kenangku yang lebih utama daripada engkau.”
“Engkau telah memberikan harta ini kepadaku dengan tulus, betapa baiknya hatimu,” orang tua itu memujinya.
Putra Luqman menjawab, “Iya, baiklah.”

Orang tua itu lalu berkata lagi, “Pergi dan bawalah istri dan semua hartamu ini! Semoga Allah memberkahi istri dan hartamu. Aku bukanlah manusia. Sesungguhnya aku adalah amanat yang mana ayahmu senantiasa membuat tanggungan kepada manusia dengannya. Allah Swt. telah mengutusku untuk menemanimu dalam perjalanmu ini. Sekarang, temuilah ayahmu dengan baik, dan tentramlah hatimu dengan kekayaanmu yang berkah ini.”
dan baca juga tentang kisah yang lain dalam buku  MUTIARA HIKMAH Penerbit DIAMOND

Ditulis dalam Islam. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: